Langsung ke konten utama

Postingan

Iip Jumsari, Kakek Cebol Berusia 110 Tahun

Orang yang berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun, cukup banyak di Indonesia. Namun kakek di Kabupaten Cianjur ini cukup unik. Selain berusia lanjut, dia bertubuh mini. Iip Jumsari warga Kampung Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaluyu, Cianjur, yang usianya diperkirakan 110 tahun hanya memiliki tinggi badan sekitar 97 cm. Keberadaannya pun kerap menjadi perhatian warga sekitar. Tingginya tak lebih dari anak berusia kisaran 5-7 tahun. Jari-jari tangan dan kakinya pun mirip bocah ingusan. Iip terlahir di Kampung Cianteun Limbangan, Kabupaten Garut. Dia anak ketiga dari empat bersaudara. Iip hijrah ke Cianjur sekitar tahun 1965 dan menumpang di rumah Edi Junaedi 80 tahun, keponakannya di Cianjur hingga saat ini. Foto: VIVAnews/ Nurcholis Anhari Lubis

Bus Band Debu Dihantam Badai Salju Di Algeria

Baru-baru ini band Debu tengah melakukan tur di Algeria, namun cuaca buruk di wilayah tersebut berakibat fatal bagi rombongan Debu. Bus yang mereka tumpangi dikabarkan mengalami kecelakaan akibat hantaman badai salju. Berita buruk ini sendiri disampaikan oleh istri Mustafa , Cinta Penelope , yang ia sebar lewat  BBM.“Teman-teman minta doanya yah.. Buat GROUP DEBU dan salah satu teman wartawan kami yang lagi menjalani tour di ALGERIA mengalami kecelakaan bus di Costantine tadi malam akibat badai salju. Sampai detik ini  kami masih belum mendapat kabar selanjutnya,” katanya dalam BBM. Cinta Penelope juga menuturkan bahwa ia mendapat kabar lain tentang adanya anggota rombongan yang terluka dan harus dirawat di rumah sakit setempat akibat kecelakaan tersebut. Namun karena komunikasi yang terhambat, Cinta kurang tahu siapa yang terluka dalam insiden itu. “Kabar terakhir yang saya terima soal beberapa oran...

KALTENG TOLAK FPI

Sabtu, 11 Pebruari 2012 16:02 WIB REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Salah satu tokoh Dayak di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang juga sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalteng MH Rizal menegaskan, Kalteng tidak membutuhkan Front Pembela Islam (FPI). "Perlu pendalaman tentang kehadiran FPI di Kalteng. Banyak orang melihat yang dilakukan FPI di kota besar semua dalam kapasitas membela Ukuwah Islamiah. Namun di Kalteng tidak menyentuh hal-hal yang seperti itu," katanya di Palangka Raya, Sabtu. Ia mengemukakan, Kalteng juga tidak memerlukan hal-hal yang berbentuk front, sebab masyarakat kalteng menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, walaupun itu hanya organisasi kemasyarakatan (Ormas). "Belum saatnya FPI ada di Kalteng jika melihat apa yang dilakukan oleh ormas seperti FPI selama ini," kata dia tanpa menjelaskan maksud pernyataannya itu. Selain itu, masyarakat Kalteng diminta untuk tidak terpancing melakukan tindakan yang anarkis. ...

DENAH TEMPAT DUDUK DAN URUTAN PAKET SOAL UJIAN 2012

Denah Tempat Duduk Peserta dan Urutan Paket Soal UN 2012 Posted on 5 Februari 2012 by guss! Denah Tempat Duduk Peserta / Urutan Tempat Duduk Peserta dan Urutan Paket Soal UN 2012 sesuai dengan Petunjuk Teknis UN 2012 Untuk SMP, SMP/SMK di Provinsi daerah Istimewa Yogyakarta yang tertuang dalam Peraturan Kadinas Dikpora Provinsi DIY No. 67 Tahun 2012, adalah sebagai berikut : ———————– Sumber :   Petunjuk Teknis UN 2012 Untuk SMP, SMP/SMK di Provinsi daerah Istimewa Yogyakarta Sumber dari :http://gusschool.wordpress.com/2012/02/05/denah-tempat-duduk-peserta-dan-urutan-paket-soal-un-2012/

KH. CHOLIL BANGKALAN MADURA

KH. M. CHOLIL (bangkalan Madura) KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrahatau 27 Januari 1820 Masihi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langasung oleh ayah Beliau menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Khalil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya. Sewaktu menjadi Santri KH Muhammad Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (T...

KH. ARWANI AMIN

Sosok Alim, Santun dan Lembut Yanbu’ul Qur’an  Adalah pondok huffadz terbesar yang ada di Kudus. Santrinya tak hanya dari kota Kudus. Tetapi dari berbagai kota di Nusantara. Bahkan, pernah ada beberapa santri yang datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.Pondok tersebut adalah pondok peninggalan KH. M. Arwani Amin. Salah satu Kyai Kudus yang sangat dihormati karena kealimannya, sifatnya yang santun dan lemah lembut.KH. M. Arwani Amin dilahirkan dari pasangan H. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah pada Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H., bertepatan dengan 5 September 1905 M di Desa Madureksan Kerjasan, sebelah selatan masjid Menara Kudus.Nama asli beliau sebenarnya Arwan. Tambahan “I” di belakang namanya menjadi “Arwani” itu baru dipergunakan sejak kepulangannya dari Haji yang pertama pada 1927. Sementara Amin bukanlah nama gelar yang berarti “orang yang bisa dipercaya”. Tetapi nama depan Ayahnya; Amin Sa’id. KH. Arwani Amin adalah putera kedua dari 12 bersa...

KH. SYA'RONI AHMADI KUDUS

KH. Sya'roni Ahmadi Terlahir dari keluarga santri, sejak kecil kiai Sya’roni dikenal sebagai anak yang gandrung mengkaji agama, mulai dari al-Quran sampai tauhid, fikih, tasawuf dan sebagainya. Terbukti, meskipun berasal dari keluarga dari ekonomi pas-pasan, beliau rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kota Kudus. Sya’roni kecil termasuk anak yang cerdas. Pada usia 11 tahun berliau sudah hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik  bahkan hafal al-Quran pada usianya yang ke-14. Kiai Sya’roni merupakan anak yang ke tujuh dari delapan bersaudara. Beliau ditinggalkan ibundanya semenjak kecil tepatnya ketika berusia 8 tahun. Sepeninggal ibunya kiai Sya’roni di asuh oleh sang ayah. Namun masa ini pun tidak berlangsung lama. Karena menginjak usiannya yang ke 13 tahun, kiai Sya’roni ditinggal oleh ayahnya. Lengkap sudah duka kiai Sya’roni karena sejak saat itu ia menjadi anak yatim piatu. Dalam pendidikan formalnya beliau sempat mengenyam pendidikan di Madr...